SEKILAS INFO
: - Selasa, 25-06-2024
  • 2 minggu yang lalu / Dibuka Penerimaan Santri Baru tahun ajaran 2024/2025, untuk informasi lebih lanjut silahkan menghubungi 0813 3001 3379 atau 0895 3046 1325
  • 1 tahun yang lalu / Dimulainya KBM Semester Genap Pondok Pesantren Darul Atsar Al-Islamy Tahun Ajaran 2022/2023
  • 1 tahun yang lalu / Telah dibuka PENDAFTARAN SANTRI BARU Tahun Ajaran 2023/2024, dibuka mulai tanggal 10 November 2022, segeralah mendaftar ! quota terbatas !
Jangan Label Orang Karena Penampilan

“Jangan Label Orang Karena Penampilan”

Demikian cuplikan pesan dari Brigjen. Pol. Krishna Murti, S.I.K, M.Si. Beliau adalah seorang Perwira Tinggi Polri, yang sejak 20 Juli 2017 mengemban amanat sebagai Karomisinter (Kepala Biro Misi Internasional) Divhubinter (Divisi Hubungan Internasional) Polri. Nama beliau mencuat setelah sukses memimpin operasi penumpasan aksi terorisme dalam kasus Bom Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, pada 14 Januari 2016. Ketika itu, beliau juga sebagai penggagas jargon populer “Turn Back Crime”.

Adapun pesan di atas, beliau sampaikan paska rangkaian peristiwa meledaknya bom di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur pada 13 Mei 2018. Usai peristiwa ini, sejumlah masyarakat memojokkan umat Islam dengan atribut-atribut yang melekat, seperti cadar, jenggot dan lain sebagainya.

Terkait hal itu, Brigjen. Pol. Krishna Murti berpesan kepada masyarakat agar tidak mengaitkan penampilan seseorang, khususnya umat Muslim, dengan teroris. Pesan tersebut beliau sampaikan melalui unggahan di akun Instagramnya @krishnamurti_91, pada 14 Mei 2018 jam 4:18.

Berikut isi pesan selengkapnya:

_”Saya mau kasih tahu semua warga masyarakat:_

1. Wanita menutup aurat dg jilbab ataupun bercadar itu adalah pilihan berdasarkan keyakinan masing2.. Jadi jangan kalian cap mereka dengan label tidak baik. Menutup aurat adalah kewajiban yang diajarkan Nabi..

2. Laki2 yang berjenggot adalah Sunnah Rasul. Jangan kalian label mereka dengan hal2 tidak baik.. Semua kembali kepada keyakinan masing2..

3. Laki-laki bercelana di atas mata kaki, bukanlah identik dengan kaum radikal. Dalam Islam kita diajarkan untuk tidak menggunakan celana yang menyapu lantai. Dalam Shalat kita diajarkan untuk menaikkan celana di atas mata kaki agar diterima Shalat kita..

4. Jangan label orang karena penampilan. Dan jangan juga menyembunyikan kejahatan dengan penampilan..

5. Banyak pelaku kejahatan bersembunyi di balik pakaian bagus, di balik batik, di balik jas, di balik seragam, di balik perilaku manis..

6. Kita perang terhadap kejahatan, bukan perang terhadap manusia.

Semoga ini mencerahkan dan menghindarkan kita dari syak wasangka satu sama lain..”

Demikian pencerahan dari Brigjen. Pol. Krishna Murti. Semoga bermanfaat.

Ditulis Oleh :

Ustadz Luqman Hakim -hafidzahullah-
Alumni Ponpes Darul Atsar Al-Islamy Panceng Gresik

Pada:
22 Shafar 1441 H (21 Oktober 2019 M)

Ikuti Juga Channel Telegram Ahlus Sunnah Wal Jama’ah: https://t.me/Ahlus_Sunnah_wal_Jamaah/1564

TINGGALKAN KOMENTAR

Visi Misi Dan Program Unggulan Ponpes

Kegiatan UAS Pondok Pesantren