SEKILAS INFO
: - Selasa, 28-11-2023
  • 11 bulan yang lalu / Dimulainya KBM Semester Genap Pondok Pesantren Darul Atsar Al-Islamy Tahun Ajaran 2022/2023
  • 1 tahun yang lalu / Telah dibuka PENDAFTARAN SANTRI BARU Tahun Ajaran 2023/2024, dibuka mulai tanggal 10 November 2022, segeralah mendaftar ! quota terbatas !
  • 3 tahun yang lalu / Jangan lupa ! ikuti Live Dars Umum bersama Asatidzah Pondok Pesantren Darul Atsar Al-Islamy di Darul Atsar Channel setiap hari ba’da maghrib

Kita panjatkan puja dan puji Syukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala, masih bisa berjumpa pada kesempatan ini tanggal 19 rabiul awwal 1445 Hijriyah yang bertepatan tanggal 3 november 2023, kita bersyukur juga masih diberi kesehatan sehingga kita bisa berjumpa menghadiri kajian perdana ini meskipun melalui zoom, kita berharap semoga Allah berkenan untuk melimpahkan kepada kita semuanya ilmu yang bermanfaat sehingga bisa kita amalkan sebagai bekal untuk menghadap kepada Allah subhanahu wa ta’ala, Allahumma Amin. kemudian shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi agung Muhammad ﷺ, kepada keluarga, sahabat dan umatnya yang mengikuti tuntunannya hingga akhir zaman nanti.

 

para hadirin yang kami hormati, sekali lagi Alhamdulillah hari ini kita bisa berjumpa dalam rangka mengangkat tema yang cukup penting berkaitan dengan perubahan manajemen di ma’had yang kita cintai ini. Yaitu mengajarkan Iman sebelum sebelum Al-quran.

 

Apa maksudnya? bukankah iman itu diambil dari Al-Quran?, bukankah Alquran itu mengandung pelajaran keimanan?, apa maksud dari mengajarkan Iman sebelum mengajarkan Al-quran?.

Sebelum kita menjawab pertanyaan ini kita perlu tahu bahwa mendidik anak itu membutuhkan tahapan. karena soleh dan solehahnya anak itu bukan sesuatu yang instan atau tidak mendadak. Mendidik itu tidak mendadak. Nah tahapan-tahapan itu ada yang benar ada yang tidak. Nah tahapan yang benar itu adalah tahapan yang dipraktekkan oleh nabi kita Muhammad manakala beliau mendidik para sahabatnya, termasuk di dalamnya putra-putri beliau dan cucu-cucu beliau tentunya. Tahapan mendidik anak yang sudah dipraktekkan oleh Rasul  itulah yang benar dan itulah tahapan yang terbaik. Kenapa tahapan yang dipraktekkan oleh nabi yang terbaik? Karena tahapan itu pasti berlandaskan Wahyu, berarti Rasulullah  menjalankan itu dengan bimbingan dan arahan dari siapa? Allah subhanahu wa ta’ala. Kalau itu berdasarkan bimbingan dan arahan dari Allah pasti itulah yang terbaik. kemudian sudah terbukti  keberhasilannya. Dari mana kita bisa melihat bukti itu? dari generasi yang dididik oleh Nabi melalui tahapan tersebut. Seperti siapa? Abu bakar, Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud, Abdurrahman bin Auf dan sahabat-sahabat yang lainnya, mereka sudah terbukti adalah orang-orang yang hebat. Makanya sebenarnya aneh, ketika ada muslim yang lebih suka metode yang diimpor dari negara barat dan belum terbukti menghasilkan generasi yang hebat. Ini sudah ada yang terbukti dan berdasarkan wahyu, kenapa ditinggalkan?. 

Sekarang seperti apa tahapan tersebut mari kita dengarkan apa yang dikatakan oleh Jundub -radhiyallahu ‘anhu- melalui hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah -rahimahullah-.

عَنْ جُنْدُبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ, قَالَ: ” كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ, فَتَعَلَّمْنَا الْإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ, ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ, فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا ” رواه ابن ماجه , وصححه الألباني في “صحيح سنن ابن ماجه”

“Dahulu kami bersama Nabi , kami waktu itu masih anak-anak yang mendekati baligh. Kami mempelajari iman sebelum mempelajari Al-Qur’an. Kemudian setelah itu kami mempelajari Al-Qur’an, sehingga bertambahlah iman kami pada Al-Qur’an.(Shahih Ibnu Majah No. 52 , hadits dari Jundub bin ‘Abdillah )

“Dahulu saat kami masih anak-anak kami bersama Rasulullah

Jadi ini sedang menggambarkan bagaimana Rasul bersama anak-anak di zaman itu adalah anak-anak yang menjelang baligh. Menjelang baligh itu berarti sekitar umur berapa ya kira-kira? Mungkin 10 atau 11 tahun. “Saat itu kami anak-anak belajar iman sebelum belajar Al-Quran”. Jadi tahapannya adalah mengajarkan iman baru setelah itu Al-Quran. 

Nanti kita akan jelaskan. “kemudian setelah iman baru belajar Al-quran, sehingga iman kami bertambah kuat” jadi tahapannya sekali lagi adalah iman dulu baru Al-quran. 

Nah sekarang apa yang dimaksud dengan iman di sini? apa yang dimaksud dengan Al-Quran di sini? jadi kita pahami dulu tahapannya apa dulu. Materi Iman dulu setelah itu mengajarkan Al-Quran. “Setelah kami belajar Iman baru kemudian kami belajar Al-Quran, sehingga Iman kami pun semakin bertambah kuat” jadi tahapannya belajar Iman baru belajar Al-quran. 

Apa yang dimaksud dengan belajar iman?, yang dimaksud dengan belajar iman adalah belajar nilai-nilai yang terkandung  dalam Al-quran, jadi yang dipelajari pertama adalah nilai-nilai. Nanti kita akan jelaskan nilai-nilai itu ajaran. Ajaran-ajaran yang ada di dalam Al-quran itu yang diajarkan terlebih dahulu. Belajar Al-Quran, maksudnya apa? belajar membaca Al-quran. Iman adalah belajar nilai-nilai yang dikandung dalam Al-Quran, sedangkan belajar Al-Quran yang dimaksud di dalam hadits tadi adalah belajar cara membaca Alquran. Berarti tahapan yang perlu diikuti sebagaimana yang dipraktekkan oleh Nabi saat mendidik para sahabatnya adalah mengajarkan nilai-nilai yang ada di dalam Al-Quran terlebih dulu baru kemudian mengajarkan cara membaca Al-quran. 

Cara membaca Al-Quran

ketika seorang ingin membaca Al-Quran, pertama-tama ia perlu dikenalkan huruf-huruf Hijaiyah, Alif, Ba Ta dst, setelah belajar huruf hijaiyah biasanya mulai belajar yang ada harokatnya, Alif fathah A, Alif kasroh I, Alif Dhommah U,  A I U . Kemudian belajar huruf disambung dengan huruf ya. A aba terus ba a ba terus aaa terus ba ba huruf disambung dengan terus kata terus begitu seterusnya. Dan juga belajar makhorijul huruf cara mengucapkan huruf yang benar nanti habis itu belajar tajwid dan seterusnya. 

Belajar makhorijul huruf, belajar huruf hijaiyah, belajar kata-kata yang tertulis dalam bahasa Arab. itu tahapan pertama atau kedua? Jawabannya Kedua. tahapan pertamanya apa tadi? Iman. Mengajarkan nilai-nilai yang ada di dalam Al-quran berarti saat kita akan mengajarkan huruf-huruf hijaiyah, mengajarkan membaca Al-Quran dan tajwid itu adalah saat anak sudah mengerti secara global. bukan secara detail ya. Secara global dulu tentang kewajiban kita beriman kepada siapa? Allah. Allah itu siapa? kewajiban kita kepada Allah apa? ini namanya nilai-nilai yang dikandung dalam Al-Quran ini yang perlu ditanamkan terlebih dahulu. Para sahabat, ketika pertama kali anak-anaknya bisa berbicara itu diajarkan untuk mengucapkan la Ilaha illallah, jadi dikenalkan dengan Allah dulu. Caranya bagaimana ya? dengan diajak diskusi sesuai dengan umur anak tersebut. Kita ajak keluar rumah, kemudian kita ajak dia untuk melihat ke langit. Kalau malam ada Bintang, bulan, dan benda-benda langit lain. Kalau siang ada awan, matahari, dan lainnya. Kita sampaikan itu adalah Bintang, siapa yang menciptakannya? Allah, ini namanya mengajarkan nilai-nilai dalam Al-Quran, sebelum fathah, kasroh dan makhorijul huruf. 

Apa landasan menafsirkan dengan semua itu?, dasarnya adalah hadits berikut. 

Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al Baihaqi dalam kitab beliau dan hadits shahih riwayat Imam Al Hakim, kata seorang sahabat Nabi yaitu Ibnu Umar radhiyallahu anhu: 

لَقَدْ عِشْنَا بُرْهَةً مِنْ دَهْرِنَا وَأَحَدُنَا يُؤْتَى الإِيمَانَ قَبْلَ الْقُرْآنِ ، وَتَنْزِلُ السُّورَةُ عَلَى مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم- فَيَتَعَلَّمُ حَلاَلَهَا ، وَحَرَامَهَا ، وَآمِرَهَا ، وَزَاجِرَهَا ، وَمَا يَنْبَغِى أَنْ يَقِفَ عِنْدَهُ مِنْهَا. كَمَا تَعَلَّمُونَ أَنْتُمُ الْيَوْمَ الْقُرْآنَ ، ثُمَّ لَقَدْ رَأَيْتُ الْيَوْمَ رِجَالاً يُؤْتَى أَحَدُهُمُ الْقُرْآنَ قَبْلَ الإِيمَانِ فَيَقْرَأُ مَا بَيْنَ فَاتِحَتِهِ إِلَى خَاتِمَتِهِ مَا يَدْرِى مَا آمِرُهُ وَلاَ زَاجِرُهُ وَلاَ مَا يَنْبَغِى أَنْ يَقِفَ عِنْدَهُ مِنْهُ فَيَنْثُرُهُ نَثْرَ الدَّقَلِ

Kami telah hidup sekian lama dari usia kami, dan salah seorang dari kami diberi iman sebelum Al-Qur’an. Sebuah surah turun kepada Muhammad , maka dia pun mempelajari apa yang halal, haram, perintah, larangan, dan hal-hal lain yang harus diperhatikan darinya, sebagaimana kalian mempelajari Al-Qur’an di hari ini. Kemudian, sungguh saya telah melihat beberapa orang di hari ini, dimana salah seorang dari mereka telah diberi Al-Qur’an sebelum iman. Maka, ia pun membaca apa yang ada diantara pembukaannya sampai penutupnya, namun ia tidak tahu-menahu apa yang diperintahkan, apa yang dilarang, dan apa yang harus ia perhatikan darinya. Ia membacanya sebagaimana kurma jelek berjatuhan ketika pohonnya diguncangkan. (Riwayat Al-Baihaqi dalam Sunan-nya, no. 5496, dari ‘Abdullah bin ‘Umar. Diriwayatkan pula oleh al-Hakim, ath-Thabrani dan ath-Thahawi. Al-Hakim mengeluarkannya dalam al-Mustadrak, no. 101. Beliau berkata, “Ini hadits shahih ‘ala syarth asy-syaikhain, setahu saya tidak ada ‘illat di dalamnya, dan mereka berdua tidak mengeluarkannya.” Ad-Dzahabi berkata dalam at-Talkhish, “Sesuai syarth al-Bukhari dan Muslim, dan tidak ada ‘illat padanya.” Ath-Thabrani mengutipnya dalam Mu’jam al-Ausath, dan menurut al-Haitsami dalam Majma’ az-Zawaid, no. 755, “Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Ausath, dan para perawinya adalah perawi shahih.” Ath-Thahawi meriwayatkannya dalam Musykil al-Atsar, no. 1253).

 

Kami itu maksudnya para sahabat. kami mengalami masa di mana dahulu kami belajar Iman sebelum belajar Al-Quran. Para sahabat itu belajar apa dulu? Iman dulu baru belajar Al-Quran. Coba saya ingin ngetes “belajar Iman maksudnya apa?” nilai-nilai yang ada dalam Al-quran. Sebelum belajar Al-quran apa maksudnya belajar Al-quran? belajar cara membaca Al-quran. Jangan lupa ya, masa kajian belum selesai sudah lupa. coba saya cek lagi kami belajar Iman sebelum Al-Quran. Apa itu iman? nilai-nilai yang terkandung dalam Al-quran. Al quran maksudnya apa? cara membaca Al-quran. nah sekarang beliau menerangkan apa maksudnya dari kami itu belajar Iman dulu?

 ، وَتَنْزِلُ السُّورَةُ عَلَى مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم-  

Ketika surat Al-Quran diturunkan kepada nabi kita Muhammad apa yang kami pelajari terlebih dahulu? Lihat apakah menghafal dulu? apakah cara membacanya yang benar dulu?.

 فَيَتَعَلَّمُ حَلاَلَهَا ، وَحَرَامَهَا ، وَآمِرَهَا ، وَزَاجِرَهَا ، وَمَا يَنْبَغِى أَنْ يَقِفَ عِنْدَهُ مِنْهَا 

Ketika ada surat Al-Quran itu yang kami pelajari adalah Halal Haram. Hukum halal hukum, haram ini adalah nilai, berarti perintah yang ada dalam ayat itu apa? larangan yang ada dalam ayat itu apa? Berarti nilai dan aturan-aturan yang harus dipatuhi dalam surat itu apa? ini semuanya adalah nilai, jadi sebelum belajar membaca yang benar itu pelajarilah nilai yang terkandung terlebih dulu. Bagaimana anak kecil bisa tahu nilai yang terkandung dalam surat Al-ikhlas? ya itulah fungsinya ada orang tua, itulah fungsinya ada guru, itulah fungsinya ada ustadz. Anak kecil diperintahkan untuk menyimpulkan nilai dari surat Al-ikhlas, bisa atau tidak? Tentu tidak bisa. Yang bisa menyimpulkan adalah ustadz, mubaligh, orang tua yang belajar sama ustadz. Oleh karena itu, ibu-ibu, bapak-bapak , para pendengar dan para pemirsa sekarang ini kita sedang sekolah. Sekolah apa? Sekolah orang tua. Aneh ya, insinyur ada sekolahnya, polisi ada sekolahnya, tentara ada sekolahnya. Sedangkan Orang tua, Tidak ada. Padahal orang tua itu yang melahirkan polisi,  yang melahirkan tentara, nah sekolahnya orang tua ya sekarang ini. Jenengan lagi apa? Sekolah. Jadi panjenengan memahami nilai-nilai ada yang ada dalam Al-quran lewat pengajian seperti ini. Kemudian jenengan transfer kepada anak-anak jenengan.

Itulah yang dilakukan para sahabat, begitu turun surat Al-Quran, Ibnu Umar berkata:  Yang kami pelajari dari surat itu adalah hukum-hukumnya terlebih dulu, halal haramnya apa, kemudian perintahnya apa, larangannya apa, dan aturannya apa. Karena Al-Quran sebagaimana hari ini kalian belajar detail cara membaca Al-quran,  Subhanallah.

Sekarang ini banyak sekali pengajian-pengajian, taklim-taklim yang mengajarkan cara membaca Al-quran secara mendetail. Huruf-huruf hijaiyah, cara mengucapkannya, bahkan detail di kerongkongan ini, ada yang di bawah ini, ada yang di depan ada yang disamping ada di tengah. Bagaimana cara mengucapkan huruf itu berbeda-beda. Ini bagus, namun jangan sampai kita sibuk mempelajari makharijul huruf tapi tidak tahu nilai yang terkandung di dalam ayat-ayat yang kita pelajari tersebut. Jadi bukannya tidak benar, belajar makhorijul hurufnya itu benar dan bagus, yang tidak benar adalah gara-gara belajar makhorijul huruf sampai kita mengabaikan, melupakan dan cuek dengan nilai-nilai utama yang terkandung di dalam Alquran. Maka ayo kita imbangkan, jangan cuma belajar cara membaca Al-quran yang benar secara detail, tapi juga kita harus mempelajari ajaran, nilai, aturan, dan hukum yang ada di dalam ayat-ayat Al-quran tersebut. bisa dipahami? kemudian Ibnu Umar melanjutkan: 

 ثُمَّ لَقَدْ رَأَيْتُ الْيَوْمَ رِجَالاً يُؤْتَى أَحَدُهُمُ الْقُرْآنَ

Tapi kata beliau hari ini, jadi Ibnu Umar sedang menceritakan apa yang beliau saksikan dari praktek para tabiin, sebagian tabiin tepatnya. Sebelumnya Ibnu Umar menceritakan praktek generasi sahabat, setelah itu Ibnu Umar membandingkannya dengan yang terjadi hari ini, yaitu yang beliau saksikan dari praktek sebagian generasi tabi’in. Yang terjadi saat itu terbalik, berarti gimana? Para Tabi’in belajar membaca Al-Quran dulu baru kemudian belajar iman, sedangkan para sahabat itu belajar Iman dulu baru kemudian belajar membaca Al-quran. Kira-kira yang lebih pas yang mana? Jawabannya jelas Iman dulu baru cara membaca Al-Quran. 

Apa akibatnya jika tahapan itu tidak diikuti, yaitu tahapan yang sudah dipraktekkan oleh Nabi dalam mendidik para sahabatnya, belajar Iman terlebih dulu baru cara membaca Al-Quran, malah terbalik belajar cara membaca Al-Quran dulu baru belajar iman yang dikandungnya.

 فَيَقْرَأُ مَا بَيْنَ فَاتِحَتِهِ إِلَى خَاتِمَتِهِ مَا يَدْرِى مَا آمِرُهُ وَلاَ زَاجِرُهُ وَلاَ مَا يَنْبَغِى أَنْ يَقِفَ عِنْدَهُ مِنْهُ

Ada orang yang bisa membaca Al-Quran dari awal sampai akhir lancar, harokatnya tidak ada yang keliru, makhrojnya pas, tapi tidak tahu mana yang halal dan mana yang haram. Karena keliru menerapkan metode. Yang seharusnya iman dulu, dibalik jadi Al-Quran dulu. Dibalik jadi apa? belajar cara membaca Al-Quran dulu baru Iman. Maka hati-hati kalau sudah terlanjur seperti itu, hendaknya diperbaiki. Berarti apa kita tidak perlu belajar tahsin? perlu, tapi jangan cuma belajar itu. Jadi kalau misalnya ada pelajaran tahsin dan tajwid, seharusnya jangan hanya sesi cara membaca yang benar saja, tapi juga harus ada sesi mengajarkan nilai-nilai Al-quran. Nah nilai Al-quran itu apa? pembahasan berikutnya. 

Apa saja Nilai-nilai yang terkandung di dalam Al-Quran?

Nilai-nilai Al-quran itu secara global dibagi menjadi 3, yaitu:

  1. Aqidah. 
  2. Ibadah. 
  3. akhlak. 

Apa itu aqidah?

Aqidah itu keimanan kita, keyakinan kita, bahwa Allah itu ada. Bahwa Allah itu memiliki sifat-sifat yang mulia dan nama-nama yang istimewa. Istilahnya Asmaul husna. Ketika anda ikut kajian di masjid atau youtube tentang aqidah, ibadah, dan akhlak berarti anda sedang belajar nilai-nilai yang terkandung dalam Al-quran. Salah satu poinnya adalah nama-nama dan sifat-sifat Allah. 

Kita belajar agar kita tahu nilai yang terkandung di dalam Al-quran itu berkaitan dengan akidah. Masih terkait dengan akidah adalah kita memahami bahwa Allah itu punya hak dari kita semua, seluruh ibadah kita hanya boleh dipersembahkan kepada Allah semata. Ini juga merupakan nilai aqidah, dan itulah nilai yang terkandung di dalam surat Al-Fatihah, ayat yang berbunyi “iyyaka na’budu wa iyyaka nastain” hanya kepadamu kami beribadah dan hanya kepadamu kami meminta pertolongan. 

Akibat dari seorang yang hanya belajar membaca Al-Fatihah namun tidak belajar nilai yang terkandung di dalamnya adalah ketika ia memiliki masalah perginya ke kuburan atau bahkan ke dukun, dulu pernah heboh, pernah pada protes karena jualan penglarisnya sepi nggak ada orderan akhirnya jadi kere, aneh bin ajaib, kenapa penglarisnya tidak dipakai sendiri saja. ini gara-gara apa? gara-gara belajar membaca Al-Fatihah dengan bacaan yang benar tapi nilainya tidak dipelajari . 

Padahal jika ia mempelajari nilai dari surat Al-Fatihah “iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” (hanya kepadamu kami beribadah hanya kepadamu kami meminta pertolongan) dan memahami nilai ini, ketika ada masalah itu harusnya kembalinya ke Allah bukan ke dukun. 

Ini semua akibat dari menghafal Al-Fatihah namun tidak mempelajari nilai yang terkandung di dalamnya. Salah satunya adalah kita hanya diperbolehkan untuk beribadah kepada Allah semata ketika kita kepepet kita minta pertolongan dan bantuan kepada Allah.

Aqidah sudah, yang ke-2 adalah Ibadah. Jadi selain nilai-nilai tersebut diwujudkan dalam keyakinan, maka juga harus diwujudkan dalam perbuatan dan amalan anggota badan. Inilah yang dinamakan dengan ibadah, Misalnya apa? Sholat, puasa, zakat, Haji dan lain-lain. 

Jadi anak kecil awalnya perlu diajari wajibnya sholat, tidak perlu dengan dalilnya dulu. Yang penting nilainya dulu. 

Sudah dua ya, pertama aqidah, kedua ibadah. yang ke-3 adalah Akhlak. 

Akhlak itu adalah perilaku yang baik. Perilaku yang baik kepada sesama, terutama kepada orang tua, dan guru, jujur, tawadhu, rendah hati dan terus tersenyum, kenapa senyum? karena senyum menandakan keramahan dan kesopanan. Inilah nilai akhlak. 

Itulah 3 nilai yang terkandung di dalam Al-Quran, yaitu Aqidah, Ibadah dan Akhlak. 3 nilai ini sangat perlu kita ajarkan kepada anak-anak kita secara global, sebelum kita mengajarkan cara membaca Al-quran kepada anak kita. 

Lalu bagaimana cara mengajarkannya?

Cara mengajarkannya adalah dengan ucapan dan perbuatan (praktek). Ketika kita sebagai orang tua mengajarkan akidah, ibadah dan akhlak, caranya adalah dengan menyampaikannya kepada anak-anak kita, inilah yang namanya ucapan. disamping itu juga harus diiringi dengan contoh perbuatan dari kita. Itulah yang dipraktekkan oleh nabi kita Muhammad ﷺ. Rasulullah ketika bertemu pandang dengan para sahabatnya beliau mengajarkan nilai-nilai Al-quran dengan ucapan. 

Contohnya adalah ucapan beliau kepada Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, beliau pernah dibonceng oleh Rasulullah naik kendaraannya. Sembari membonceng Ibnu Abbas Rasulullah mengajarkan nilai-nilai Al-quran kepada Ibnu Abbas. “Ya ghulam”, nak,  dengerin ya saya akan mengajarkan kepadamu beberapa ajaran dan nilai. “Idza saalta fasalillah” kalau kamu butuh sesuatu mintalah kepada-Nya. Dari kecil, Ibnu Abbas yang masih berusia sekitar 6-7 tahun diajak ngobrol oleh Rasulullah padahal ia masih kecil apalagi jika kita ngomong kepada yang usianya lebih besar.

Ketika itu Rasulullah memanfaatkan momen bonceng-boncengan, untuk menyampaikan nilai-nilai, jika kamu butuh sesuatu mintalah kepada Allah, jika kamu butuh bantuan nak, mintalah bantuan itu kepada Allah. Disamping itu Njenengan praktekkan dengan lisan jenengan. Ketika anak meminta kepada jenengan, “bu belikan aku minta dibelikan mainan itu supaya seperti punya tetangga fulan”. Lalu bagaimana ibu yang bijaksana?, apakah kemudian ia berkata “Sana ngomong bapak”?. Jawabannya, ibu yang bijaksana adalah hendaknya ia berkata: “Mintalah kepada Allah nak”. Maka dari kecil anak-anak dibiasakan, ketika butuh apa-apa mintalah kepada Allah semata. Kemudian apakah tidak dikasih uang?. Ya tetap dikasih uang, tapi anak itu dilatih sejak kecil ketergantungannya hanya kepada Allah. Kenapa dilatih ketergantungannya hanya kepada Allah?, Karena kita sebagai orang tua tidak mungkin terus-menerus membersamai anak kita. 

Mungkin tidak, kita mati duluan sebelum anak kita?. jawabannya mungkin, karena notabene mereka lebih muda dari kita. Lha kalau sejak kecil terbiasa tergantung sama orang tuanya, maka Ketika orang tuanya tidak ada sang anak akan bingung. Tapi Ketika sudah terbiasa kalau butuh apa-apa mintalah kepada Allah. Sakit pengen sembuh, apa? Nak doa, minta kepada Allah. Kalau dari kecil seperti itu, kemudian kita ditakdirkan meninggal duluan. Minimal kita sudah memberinya modal. Modal keyakinan yang kuat kepada Allah. dan ini modal yang lebih berharga daripada dunia dan seisinya. Ketergantungan hanya kepada siapa? Kepada Allah. Inilah cara mengajarkan nilai-nilai Al-quran dengan dengan lisan atau ucapan. 

Yang kedua apa? Dengan perbuatan. Apa maksudnya mengajarkan nilai-nilai Al-quran dengan perbuatan?. Yaitu dengan praktek dari orang tua. Praktek apa? Praktek nilai akidah, ibadah dan akhlak. Makanya ibu-ibu, Ibu-ibu itu sholatnya di rumah, sedangkan Bapak-bapak sholat fardhu di masjid dan Sholat sunnahnya di rumah. Untuk apa? Agar dilihat oleh anak-anaknya. Mereka melihat ibunya sholat, lihat bapaknya sholat sunnah dirumah lebih lebih jika ditambah membaca Al-Quran akhirnya anak itu familiar. Terbiasa, tidak merasa asing.  jadi anak tidak familiar atau terbiasa dengan kebiasaan ortunya bermain HP. Ibunya lihat medsos, mbahnya hobi nonton tv. Maka dari itu anaknya senang main gadget, medsosan, nonton tv dan lain-lain. Mengapa demikian? Siapa yang mengajarkan semua itu? Tentunya adalah orang tuanya sendiri, tanpa sadar anak memperhatikan, setiap hari ia melihat orang tuanya pegang gadget, bahkan ketika diajak ngobrol pun matanya melihat ke arah lain, setelah itu orang tua tersebut ngeluh “anak saya kecanduan gadget”. 

Maka hendaknya kita mulai dari diri kita terlebih dahulu, dengan tidak kecanduan gadget. Tidak hanya menyalahkan bahwa anaknya salah pergaulan, melainkan hal itu adalah salah pendidikan dari orang tuanya, hendaknya tidak menyalahkan orang lain, tetangga misalnya. Nah, lihatlah keseharian anak-anak kita, apakah sudah betul-betul mempraktekkan contoh yang benar ini.

Contoh lain tentang akhlak Rasulullah, bagaimana Rasul mempraktekkan akhlak beliau? diceritakan oleh Aisyah bahwa Rasulullah tidak pernah mencela makanan yang dihidangkan kepada beliau walau hanya sekali. Inilah Akhlak beliau yang sangat mulia. Namun mengapa banyak anak-anak yang protes ketika ia melihat meja makan kok lauknya ini, kok nggak itu, lagi-lagi sayur bening, lagi-lagi sayur bening.

Dan Rasulullah tidak pernah menyalah-nyalahkan apalagi sampai mencaci dan menyudutkan istrinya yang sudah capek-capek menyiapkan masakan, tidak pernah. ini akhlak. Jika ingin mengajarkan akhlak yang agung ini maka kita bisa mulai dengan perbuatan yaitu dengan mempraktekkannya.

Baik, jadi kesimpulannya, metode pendidikan yang benar itu mengajarkan apa dulu? Iman sebelum Al-Quran. Apa maksud iman nilai-nilai yang ada di dalam Al-quran? yang dimaksud dengan Al-quran di sini apa? membaca Al-quran. Nilai-nilai yang ada dalam Al-quran secara global ada berapa? jawabannya ada 3. 

Apa yang pertama? Aqidah. yang kedua? Ibadah. yang ketiga? Akhlak. 

Bagaimana cara mengajarkan tiga nilai itu? (1) dengan perkataan. (2) dengan perbuatan. inilah kesimpulan dari kajian kita hari ini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Visi Misi Dan Program Unggulan Ponpes

Kegiatan UAS Pondok Pesantren